Pada malam yang menjalang
ku meminjam tubuhmu pada kata-kata yang remuk.
Sebab puisi tak singgah pada keramaian.
Bagaimana kuhindari perkelahian ini?
Sementara mercusuar yang sama-sama kita bangun telah kau gadai dengan banyak ciuman.
Aku melolong.
Kemabukanku meledakkan selimut tubuhmu.
Menyulap ranjang menjadi perapian.
Tak perlu pedang atau kapak untuk membunuhmu.
Tak perlu mengerang ketika kulempar puisi.
Sebab kau masih menyimpan ribuan danau di selangkanganmu.
Langitpun lapang.
Siluet pinus menyamarkan tubuhmu yg telanjang.
Bulan yang kian cembung di matamu yang nanar.
Puisipun istirah setelah perkelahian panjang.
Bagaimana caranya aku menghindari perkelahian ini?
Sebab puisi tak mampu menampung gelombang.
Meledak pada malam yang terbunuh seketika.
~ kaisar_28 ~
Monday, December 14, 2009
Malam yang menjalang
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment